Sabtu, 13 Desember 2014
Rabu, 10 Desember 2014
SMA PLUS DARUSSALAM
SMA Plus Darussalam
Diposting pada: 2013-04-21 02:51:36 | Hits : 1874
Terakreditasi A
Kepala
Drs. H. Koko Komaruddin, M.Pd.

Kepala
Drs. H. Koko Komaruddin, M.Pd.
IAID
PROFIL IAID CIAMIS JAWA BARAT
|
Institut
Agama Islam Darussalam (IAID) adalah Perguruan Tinggi Agama Islam yang
menggabungkan pendidikan akademik dengan pendidikan kepesantrenan, yaitu
Pondok Pesantren Darussalam. Pendidikan Tinggi Islam yang lahir pada tanggal
1 Juni 1970 ini sejak lama dipercaya pemerintah dan masyarakat untuk mendidik
calon-calon sarjana-ulama-cendekia, yang memiliki visi ke-Islam-an, keilmuan,
kebangsaan dan kemasyarakatan. Kepercyaan itu dibuktikan dengan jumlah ribuan
alumni yang tersebar hampir di seluruh pelosok nusantara dalam berbagai peran
dan kedudukan. |
IAID
Sejarah IAID
Diposting pada: 2014-03-24 16:15:38 | Hits : 385
Institut Agama Islam Darussalam (IAID) adalah Perguruan Tinggi
Agama Islam yang menggabungkan pendidikan akademik dengan pendidikan
kepesantrenan, yaitu Pondok Pesantren Darussalam. Pendidikan Tinggi
Islam yang lahir pada tanggal 1 Juni 1970 ini sejak lama dipercaya
pemerintah dan masyarakat untuk mendidik calon-calon
sarjana-ulama-cendekia, yang memiliki visi ke-Islam-an, keilmuan,
kebangsaan dan kemasyarakatan.Kepercyaan itu dibuktikan dengan jumlah ribuan alumni yang tersebar hampir di seluruh pelosok nusantara dalam berbagai peran dan kedudukan.
MAN DARUSSALAM
Sejarah berdirinya MAN Darussalam Ciamis.
Pada paruh 1929, Kyai Ahmad Fadlil
(meninggal tahun 1950) ayahanda K.H. Irfan Hielmy (alm), memulai kisah
pendirian Pondok Pesantren dengan sebuah mesjid dan sebuah bilik sebagai
asrama. Santri yang pertama mondok adalah pemuda-pemuda setempat yang
tidak saja diajarai ilmu-ilmu agama tetapi diajak mengolah sawah,
bercocok tanam, dan diberi contoh bagaimana memelihara bilik dan
memakmurkan mesjid. Pesantren Cidewa, sebutan untuk komunitas baru itu,
dengan cepat mendapat simpati serta dukungan dari masyarakat sekitar
bahkan di tahun-tahun pertama mulai dikenal luas dan Iebih banyak lagi
santri yang mondok. Tanah Pondok Pesantren Darussalam Ciamis ini adalah
hasil wakaf dari suami-istri Mas Astapraja dan Siti Hasanah di Kampung
Kandanggajah, Desa Dewasari, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis,
Jawa Barat.
Pada tahun 1967 mulai dirintis
penyelenggaraan sistem pendidikan formal dengan mengadaptasi model
klasikal, dan sampai saat ini semua jenjang pendidikan dari mulai Taman
Kanak-kanak (TK) atau Raudlatul Athfal (RA) telah berdiri hingga
Perguruan Tinggi.
MTS ALFADLIYLIYAH
MTs Al-Fadliliyah Darussalam Bilingual Class
Kelas Bilingual MTs Al-Fadliliyah Darussalam tahun ini merupakan angkatan ke 3, artinya baru berjalan 3 tahun yang merupakan kelanjutan dari Kelas Program Khusus (KPK).Kelas Bilingual merupakan kelas unggulan di MTs Al-Fadliliyah Darupssalam, keunggulannya adalah pengantar bahasa yang digunakannya adalah dua bahasa yaitu Bahasa Arab dan Bahasa Inggris.
Rabu, 26 November 2014
:: HARAPAN SEORANG ISTERI KEPADA SUAMI ::
(Sebuah Renungan dan Harapan Semua Istri)
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh..
♪• Suamiku ..
Kuingin agar setiap perjumpaanku denganmu menjadi sebuah perjumpaan manis, hiasi selalu dengan senyuman tulusmu karena senyummu adalah bahagiaku,do’amu adalah sebuah keridhoan bagiku.
♪• Suamiku ..
Bertutur-katalah yang lemah-lembut padaku ketika kau hendak
sampaikan sesuatu agar ku mudah mencerna apa maksudmu, perhatikanku pula ketika ku ingin berbagi denganmu mendengarkan ucapan atau ceritanku. Karena bagiku itu adalah sebuah penghargaan.
♪• Suamiku ..
Kuinginkan sebuah panggilan kesayangan tuk jadikan sebuah
kemesraan dalam hubungan.
♪• Suamiku ..
Kuingin kau lebih sebagai seorang sahabat yang berikan waktu untukku. Jangan terlalu sibuk dengan segala urusanmu, sediakan waktu untuk bercengkrama bersama denganku walau hanya
sekedar tuk ingatkan tentang kenangan indah bersamamu.
♪• Suamiku ..
Jadikan bermusyawarah sebagai jalan dalam memecahkan persoalan keluarga dengan adanya 2 orang akan lebih mudah ditemukan sebuah jalan keluar
♪• Suamiku ..
Bantu aku dalam keta’atan kepada Allah.
Biasakanlah bangunkanku di sepertiga malam terakhir dan ajak ku menegakkan sholat Qiyamullail.
♪• Suamiku ..
Ajari ku apa yang kau ketahui dari Al- Qur’an dan tafsirnya.
♪• Suamiku ..
Ajari ku tak lepas dari kalimat “Dzikir” (cara untuk mengingat
Allah dengan mencontoh Rasulullah) di pagi dan petang.
♪• Suamiku ..
Ingatkan selalu aku untuk membelanjakan uang di jalan yang diridhoiNya, menebar kebaikan dan jihad dijalan Islam.
♪• Suamiku ..
Cemburu adalah fitrah. Bahkan kuharap kaupun punya rasa cemburu terhadap aku, tetapi jangan berlebihan (cemburu buta).
♪• Suamiku ..
Kuingin kan sikap kesabaran dan kelembutan dalam
menghadapiku jangan kau tunjukkan kekerasan dan kata-kata kasar padaku.
Selalu ingatkan aku jika ada perbuatan yang salah pada diriku,karena aku hanyalah wanita sederhana dengan
kekurangan dalam diriku.
♪• Suamiku ..
Ma’afkan aku jika telah berbuat salah padamu, turunkan emosimu
ketika kau hadapi aku, nasehatiku dengan kelembutanmu karena itu akan lebih mengena bagiku. Ku yakin kau bisa lakukan itu…
Salam sayang untukmu selalu…
Rasulullah shalallahu`alaihi wasallam bersabda:
“Yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik (perlakuannya) terhadap istri-istrinya dan aku adalah yang terbaik di antara kalian terhadap istri-istriku.”
Rasullullah shalallahu `alaihi wasallam juga bersabda:
“Tidak ada yang memuliakan wanita dengan sejati kecuali
laki-laki yang pemurah (dermawan) dan tak seorangpun yang menghina mereka (wanita) kecuali laki-laki yang kasar.”
Rabu, 19 November 2014
iaid
Rektor
Dr. H. Fadlil Munawwar Manshur, M.S.
Visi
Menghasilkan akademisi muslim yang memiliki ketajaman intelektual , ketangguhan iman, kepekaan nurani dan kekuatan moral.
Misi
1. Melaksanakan pengajaran dan mengembangkan ilmu dan nilai-nilai Islam.
2. Memelihara tradisi keilmuan Islam dan sekaligus mendorong pembaharuan pemikiran Islam.
3.
Mengarahkan mahasiswa kepada pemilikan akhlak mulia, pemikiran rasional,
analitis, berorentasi pada pemecahan masalah dan berpandangan jauh ke
depan.
4. Melaksanakan penelitian dalam rangka mengembangkan keilmuan dan pengabdian masyarakat.
5.
Memberikan kontribusi dalam proses pembangunan, khususnya dalam kaitan
dengan upaya memperkuat landasan spiritual, moral dan etik pembangunan.
6. Memberikan kontribusi dalam upaya mewujudkan perdamaian dan kesejahteraan umat manusia.
Kurikulum Pendidikan
Kurikulum
Institut Agama Islam Darussalam diarahkan pada pemberian pengalaman
belajar yang berorientasi pada kompetensi yang telah ditetapkan. Muatan
kurikulum Institut Agama Islam Darussalam terdiri dari empat unsur
terintegrasi :
1. Unsur yang membangun kemampuan dasar ilmu-ilmu keislaman yang tercermin dalam Mata Kuliah Umum (MKU).
2.
Unsur yang berfungsi untuk mengembangkan kemampuan berfikir
reflektif-filosofis serta kehandalan metodologis dalam menghadapi
problematika keagamaan dan masyarakat yang tercermin dalam Mata Kuliah
Dasar Keahlian (MKDK).
3. Unsur yang berfungsi untuk mengembangkan spesialisasi program studi yang tercermin dalam Mata Kuliah Keahlian (MKK).
4.
Unsur yang berfungsi untuk memperkaya, melengkapi dan mendukung
kemampuan akademik dan profesiaonal mahasiswa yang tercermin dalam Mata
Kuliah Pilihan/Pendukung (MKP).
Fakultas Syari'ah (S1)
1. Ahwal Al-Syakhshiyyah (Terakreditasi)
2. Ekonomi Syari'ah
Fakultas Tarbiyah (S1)
1. Pendidikan Agama Islam (Terakreditasi)
2. Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (Terakreditasi)
3. Pendidikan Guru Raudhatul Athfal
Program Pascasarjana (S2)
1. Prodi Pendidikan Islam (Terakreditasi)
Konsentrasi :
a. Pendidikan Agama Islam (PAI)
b. Manajemen Pendidikan Islam (MPI)
c. Supervisi Pendidikan Islam (SPI)
Sarana Prasarana dan Kegiatan

Senin, 20 Oktober 2014
Masa pembentukan Al
Hadist
Berita tentang prilaku Nabi
Muhammad (sabda, perbuatan, sikap ) didapat dari seorang sahabat
atau lebih yang kebetulan hadir atau menyaksikan saat itu, berita itu kemudian
disampaikan kepada sahabat yang lain yang kebetulan sedang tidak hadir atau
tidak menyaksikan. Kemudian berita itu disampaikan kepada murid-muridnya yang
disebut tabi'in
(satu generasi dibawah sahabat) . Berita itu kemudian disampaikan lagi ke
murid-murid dari generasi selanjutnya lagi yaitu para tabi'ut
tabi'in dan seterusnya hingga sampai kepada pembuku hadist (mudawwin).
Pada masa Sang Nabi masih hidup, Hadits belum ditulis
dan berada dalam benak atau hapalan para sahabat. Para sahabat belum merasa ada
urgensi untuk melakukan penulisan mengingat Nabi masih mudah dihubungi untuk
dimintai keterangan-keterangan tentang segala sesuatu.
Di antara sahabat tidak semua bergaulnya dengan Nabi.
Ada yang sering menyertai, ada yang beberapa kali saja bertemu Nabi. Oleh sebab
itu Al Hadits yang dimiliki sahabat itu tidak selalu sama banyaknya ataupun
macamnya. Demikian pula ketelitiannya. Namun demikian di antara para sahabat
itu sering bertukar berita (Hadist) sehingga prilaku Nabi Muhammad banyak yang
diteladani, ditaati dan diamalkan sahabat bahkan umat Islam pada umumnya pada
waktu Nabi Muhammad masih hidup.
Dengan demikian pelaksanaan Al Hadist dikalangan umat
Islam saat itu selalu berada dalam kendali dan pengawasan Nabi Muhammad baik
secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karenanya para sahabat tidak mudah
berbuat kesalahan yang berlarut-larut. Al Hadist yang telah diamalkan/ditaati
oleh umat Islam dimasa Nabi Muhammad hidup ini oleh ahli Hadist disebut sebagai
Sunnah Muttaba'ah Ma'rufah. Itulah setinggi-tinggi kekuatan kebenaran Al
Hadist.
Meski pada masa itu Al Hadist berada pada ingatan para
sahabat, namun ada sahabat yang menuliskannya untuk kepentingan catatan
pribadinya (bukan untuk kepentingan umum). Di antaranya ialah :
- 'Abdullah bin 'Umar bin 'Ash (dalam himpunan As Shadiqah)
- 'Ali bin Abi Thalib (dalam shahifahnya mengenai huku-hukum diyat yaitu soal denda atau ganti rugi).
Masa penggalian
Setelah Nabi Muhammad wafat (tahun 11 H / 632 M)
pada awalnya tidak menimbulkan masalah mengenai Al Hadits karena sahabat besar
masih cukup jumlahnya dan seakan-akan menggantikan peran Nabi sebagai tempat
bertanya saat timbul masalah yang memerlukan pemecahan, baik mengenai Al Hadist
ataupun Al Quran. Dan di antara mereka masih sering bertemu untuk berbagai
keperluan.
Sejak Kekhalifahan Umar bin Khaththab (tahun 13 - 23 H
atau 634 - 644 M)
wilayah dakwah Islamiyah dan daulah Islamiyah mulai meluas hingga ke Jazirah
Arab, maka mulailah timbul masalah-masalah baru khususnya pada daerah-daerah
baru sehingga makin banyak jumlah dan macam masalah yang memerlukan
pemecahannya. Meski para sahabat tempat tinggalnya mulai tersebar dan jumlahnya
mulai berkurang, namun kebutuhan untuk memecahkan berbagai masalah baru
tersebut terus mendorong para sahabat makin saling bertemu bertukar Al Hadist.
Kemudian para sahabat kecil mulai mengambil alih tugas
penggalian Al Hadits dari sumbernya ialah para sahabat besar. Kehadiran seorang
sahabat besar selalu menjadi pusat perhatian para sahabat kecil terutama para
tabi'in. Meski memerlukan perjalanan jauh tidak segan-segan para tabi'in ini
berusaha menemui seorang sahabat yang memiliki Al Hadist yang sangat
diperlukannya. Maka para tabi'in mulai banyak memiliki Al Hadist yang diterima
atau digalinya dari sumbernya yaitu para sahabat. Meski begitu, sekaligus
sebagai catatan pada masa itu adalah Al Hadist belum ditulis apalagi
dibukukan.
Masa penghimpunan
Musibah besar menimpa umat Islam pada masa awal
Kekhalifahan Ali bin Abi Thalib. Musibah itu berupa
permusuhan di antara sebagian umat Islam yang meminta korban jiwa dan harta
yang tidak sedikit. Pihak-pihak yang bermusuhan itu semula hanya memperebutkan
kedudukan kekhalifahan kemudian bergeser kepada bidang Syari'at dan
Aqidah dengan membuat Al Hadist Maudlu' (palsu) yang jumlah dan
macamnya tidak tanggung-tanggung guna mengesahkan atau membenarkan dan
menguatkan keinginan / perjuangan mereka yang saling bermusuhan itu. Untungnya
mereka tidak mungkin memalsukan Al Quran, karena selain sudah didiwankan
(dibukukan) tidak sedikit yang telah hafal. Hanya saja mereka yang bermusuhan
itu memberikan tafsir-tafsir Al Quran belaka untuk memenuhi keinginan atau
pahamnya.
Keadaan menjadi semakin memprihatinkan dengan
terbunuhnya Khalifah Husain bin Ali bin Abi Thalib di
Karbala
(tahun 61 H / 681
M). Para sahabat kecil yang masih hidup dan terutama para tabi'in mengingat
kondisi demikian itu lantas mengambil sikap tidak mau lagi menerima Al
Hadist baru, yaitu yang sebelumnya tidak mereka miliki. Kalaupun menerima,
para shabat kecil dan tabi'in ini sangat berhat-hati sekali. Diteliti dengan
secermat-cermatnya mengenai siapa yang menjadi sumber dan siapa yang
membawakannya. Sebab mereka ini tahu benar siapa-siapa yang melibatkan diri
atau terlibat dalam persengketaan dan permusuhan masa itu. Mereka tahu benar
keadaan pribadi-pribadi sumber / pemberita Al Hadist. Misal apakah seorang yang
pelupa atau tidak, masih kanak-kanak atau telah udzur, benar atau tidaknya
sumber dan pemberitaan suatu Al Hadist dan sebagainya. Pengetahuan yang
demikian itu diwariskan kepada murid-muridnya ialah para tabi'ut tabi'in.
Umar bin Abdul Aziz
seorang khalifah dari Bani Umayah (tahun 99 - 101 H / 717 - 720 M)
termasuk angkatan tabi'in yang memiliki jasa yang besar dalam penghimpunan Al
Hadist. Para kepala daerah diperintahkannya untuk menghimpun Al Hadist dari
para tabi'in yang terkenal memiliki banyak Al Hadist. Seorang tabi'in yang
terkemuka saat itu yakni Muhammad bin Muslim bin 'Ubaidillah bin 'Abdullah
bin Syihab Az Zuhri (tahun 51 - 124 H / 671 - 742 M)
diperintahkan untuk melaksanakan tugas tersebut. Untuk itu beliau Az Zuhri
menggunakan semboyannya yang terkenal yaitu al isnaadu minad diin, lau
lal isnadu la qaala man syaa-a maa syaa-a (artinya : Sanad itu
bagian dari agama, sekiranya tidak ada sanad maka berkatalah siapa saja tentang
apa saja).
Az Zuhri melaksanakan perintah itu dengan kecermatan
yang setinggi-tingginya, ditentukannya mana yang Maqbul dan mana yang Mardud.
Para ahli Al Hadits menyatakan bahwa Az Zuhri telah menyelamatkan 90 Al Hadits
yang tidak sempat diriwayatkan oleh rawi-rawi yang lain.
Di tempat lain pada masa ini muncul juga penghimpun Al
Hadist yang antara lain:
- di Mekkah - Ibnu Juraid (tahun 80 - 150 H / 699 - 767 M)
- di Madinah - Ibnu Ishaq (wafat tahun 150 H / 767 M)
- di Madinah - Sa'id bin 'Arubah (wafat tahun 156 H / 773 M)
- di Madinah - Malik bin Anas (tahun 93 - 179 H / 712 - 798 M)
- di Madinah - Rabi'in bin Shabih (wafat tahun 160 H / 777 M)
- di Yaman - Ma'mar Al Ardi (wafat tahun 152 H / 768 M)
- di Syam - Abu 'Amar Al Auzai (tahun 88 - 157 H / 707 - 773 M)
- di Kufah - Sufyan Ats Tsauri (wafat tahun 161 H / 778 M)
- di Bashrah - Hammad bin Salamah (wafat tahun 167 H / 773 M)
- di Khurasan - 'Abdullah bin Mubarrak (tahun 117 - 181 H / 735 - 798 M)
- di Wasith (Irak) - Hasyim (tahun 95 - 153 H / 713 - 770 M)
- Jarir bin 'Abdullah Hamid (tahun 110 - 188 H / 728 - 804 M)
Yang perlu menjadi catatan atas keberhasilan masa
penghimpunan Al Hadist dalam kitab-kitab pada masa Abad II Hijriyah
ini, adalah bahwa Al Hadist tersebut belum dipisahkan mana yang Marfu', mana
yang Mauquf dan mana yang Maqthu'.
Masa pendiwanan dan
penyusunan
Usaha pendiwanan (yaitu pembukuan, pelakunya ialah
pembuku Al Hadits disebut pendiwan) dan penyusunan Al Hadits dilaksanakan pada
masa abad ke 3 H. Langkah utama dalam masa ini diawali dengan pengelompokan Al
Hadits. Pengelompokan dilakukan dengan memisahkan mana Al Hadits yang
marfu', mauquf dan maqtu'. Al Hadits marfu' ialah Al Hadits yang berisi
perilaku Nabi Muhammad, Al Hadits mauquf
ialah Al Hadits yang berisi perilaku sahabat
dan Al Hadits maqthu' ialah Al Hadits yang berisi perilaku tabi'in.
Pengelompokan tersebut di antaranya dilakukan oleh :
- Ahmad bin Hambal
- 'Abdullan bin Musa Al 'Abasi Al Kufi
- Musaddad Al Bashri
- Nu'am bin Hammad Al Khuza'i
- 'Utsman bin Abi Syu'bah
Yang paling mendapat perhatian paling besar dari
ulama-ulama sesudahnya adalah Musnadul Kabir karya Ahmad
bin Hambal (164-241 H / 780-855 M)
yang berisi 40.000 Al Hadits, 10.000 di antaranya berulang-ulang. Menurut
ahlinya sekiranya Musnadul Kabir ini tetap sebanyak yang disusun Ahmad sendiri
maka tidak ada hadist yang mardud (tertolak). Mengingat musnad ini selanjutnya
ditambah-tambah oleh anak Ahmad sendiri yang bernama 'Abdullah dan Abu Bakr
Qathi'i sehingga tidak sedikit termuat dengan yang dla'if dan 4 hadist maudlu'.
Adapun pendiwanan Al Hadits dilaksanakan dengan penelitian
sanad dan rawi-rawinya. Ulama terkenal yang mempelopori usaha ini
adalah :
Langganan:
Postingan (Atom)

